Sumedang,25/11/2017 Di era globalisasi ini, seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, media berbasis internet sangat digandrungi oleh publik dan membuat paradigma berpikir dan pola kehidupan orang-orang menjadi lebih modern.

Seiring dengan kepercayaan kita terhadap teknologi yang sedemikian besar, filter kita terhadap teknologi menjadi agak “longgar”. Yang dimaksud longgar adalah, saat ini kita lebih mudah percaya terhadap segala informasi yang beredar di dunia maya. Saat ini sensasi berteknologi lebih berkesan, Tak ayal, banyak informasi-informasi yang berseliweran di platform media sosial. Akan sangat baik dan bermanfaat bilamana informasi yang beredar itu adalah informasi yang akurat dan sumbernya kredibel. Tetapi, sangat disayangkan media sosial tidak selamanya digunakan untuk tujuan yang baik. Tak jarang media sosial digunakan sebagai ajang untuk menyebar informasi hoax, cyber-bully, spam, hate speech, SARA, atau berbau radikalisme, yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia bekerja sama dengan pihak kampus STMIK Sumedang menggelar seminar dengan tema “ Media Sosial Sebagai Sarana Persatuan dan Kesatuan Bangsa ”. Pembukaan seminar yang diawali dengan seluruh pesarta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di lanjutkan dengan sambutan Ketua Yayasan Pendidikan Sumedang H Mulya Suryadi, S,Pd., M.Kom., ketua DPRD Kab. Sumedang Irwansyah Putra, dan sambutan dari pihak Kementrian Komunikasi dan Informatika.
Seminar yang di hadiri oleh 200 peserta dari kalangan generasi muda baik itu dari pelajar SMA/K maupun mahasiswa di Kab.Sumedang itu bertampat di Aula STMIK Sumedang pada hari Sabtu (25/11/2017), menghadirkan narasumber ahli di bidangnya diantaranya Mayjen TNI (purn) Dr. Tubagus Hasanuddin, S.E., MM. (Wakil Ketua Komisi 1 DPR RI), Dr. Ismail Cawidu, M.Si. (Staf Ahli Direktorat Jendral Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia), dan Fidi Supriadi, S.Kom,. M.T. (Dosen STMIK Sumedang dan pemilik seon startup bidang teknologi informasi).

Perkembangan media sosial bagaikan pedang bermata dua bagi keutuhan sebuah bangsa. Perkembangan media sosial menawarkan berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain. Faktor jarak dan waktu tidak lagi menjadi halangan dalam menjalin silaturahmi antar masyarakat. Namun di sisi lain perkembangan media sosial juga dapat menjadi bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu dan memecah belah bangsa Indonesia ketika disalahgunakan. Seperti untuk menyebarkan berita palsu (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech), ujar Dr. Ismail Cawidu, M.Si. Beliau juga menghimbau agar bijak dalam menggunakan sosial media dimana harus bisa mengatur porsi penggunaan media sosial dengan kehidupan nyata, generasi muda diharapkan bisa menyaring berita dan jangan mudah percaya pada satu sumber saja, untuk mencegah berita palsu (hoax) dan isu sara yang dapat memecah keutuhan bangsa.

Generasi muda diharapkan tidak terjerumus ke dalam dampak negatif media sosial, akan lebih baik jika diarahkan kedalam kegiatan positif lainnya baik di lingkungan sekolah ataupun masyarakat. Sambung Staf Ahli Direktorat Jendral Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo RI itu.
Melaksanakan UU No 11/2008 tentang ITE adalah Ibadah judul dialog yang di bawakan oleh Mayjen TNI (purn) Dr. Tubagus Hasanuddin, S.E., MM. Dalam sesi itu beliau mengupas tuntas UU No 11/2008 tentang Informasi dan Traksaksi Elektonik (ITE). Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya (Pasal 1 Ayat (2) UU ITE). Dalam hal ini setiap penyelenggara sisten elektronik dan segala tindakan yang berhubungan dengan ITE sudah ada aturan yang d atur dalam UU ITE tersebut, Beliau menjelaskan tentang perlindungan pemerintah terhadap fasilitas pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan, dan juga perilaku pelanggaran penyalahgunaan ITE akan di ganjar sesuai aturan UU No 11/2008. Masyarakat dihimbau agar selalu bijak dalam penggunaan media elektronik ini agar tidak menjadi perdebatan bahkan menjurus ke bidang pidana sambung Wakil Ketua Komisi 1 DPR RI itu.
Seiring dengan semakin pesatnya kegiatan di media internet khususnya media sosial sehingga perilaku cerdas, bijaksana dan bertanggung jawab, merupakan hal yang harus dimiliki oleh setiap penguna media sosial ujar Fidi Supriadi, S.Kom,. M.T.

Menurut Asosoasi Penyelanggara Jasa Internet Indonesia (APJII) data statistik penggunaan internet di Indonesia yaitu 2,2 juta atau sekitar 1,7% penguna internet menggunakan perangkat computer, dan 63,1 juta atau 47,6% menggunakan smartphone. Dimana media sosial yang paling di gandrungi Facebook sebesar 71,6 juta pengguna atau 54%. Indonesia merupakan pengguna Facebook terbanyak ke 4 di Dunia dengan 111.000.000 pengguna di bawah Brazil (urutan ke 3) dengan 123.000.000 pengguna, yang mana Amerika Serikat dengan pengguna 219.000.000 terbanyak di dunia. Dari hasil survey tersebut Indonesia merupakan negara yang berpengaruh terhadap perkembangan media sosial khususnya Facebook, sehingga beliau membahas tips penggunaan media sosial yang baik agar tidak menjadi kerugian untuk diri sendiri maupun orang lain, mulai dari etika menggunakan media sosial sampai dengan perilaku yang harus di hidari saat berselancar di media sosial pungkasnya

24 x dilihat
 

Tags: